Yoga Prasetya

Be Your Self

Anak Singkong

leave a comment »

Sore telah tiba, ketika itu matahari sudah beranjak kembali pulang ke timur. meskipun sang surya belum sempurna menghilang di ufuk timur tapi cahayanya sudah tak sedahsyat saat ia berada di atas ubun-ubun.

seorang tua yang tak memakai baju mengenakan topi berbentuk kerujut, masih terasa semangat mengayunkan cangkulya. tak jauh darinya terlihat anak yang masih begitu muda mungkin seumuran denganku.

Wajahnya terlihat kusam karena selalu sering tersengat oleh sang surya. ia terlihat sedang beristirahat, sepertinya ia sudah lelah mencangkul seharian. badanya sedikit terlihat kekar, namu di sore itu tenaga yang di miliki tak lagi sekekar badannya.

Aku masih saja memandangi kedua insan yang sedang mengolah lahan pertaniannya. anak muda itu terlihat sangat lama sekali tak bangkit dari duduknya, tangannya terlihat mengepal-ngepal tanah seperti membuat bola kasti. sedangkan bapaknya terlihat masih giat mencangkul meskipun kadang terlihat berdiri sejenak untuk merenggangkan punggungnya.

Aku berjalan mendekati kedua orang itu, karena sebelumnya aku hanya memandangi mereka dari belakang rumahku dan berjarak kuranglebih 300 meter. seorang tua itu tak melihatku yang sedang mendekatinya, namun anak muda itu terlihat penuh tanya dimatanya. aku sedikit membaca pertanyaan yang terlihat dimatanya.

Ia bingung dalam hatinya berkata “mau ngapain ini orang?”.tangannya masih saja mengepal-ngepal tanah di bentuknya bulat. aku mulai membuka mulutku untuk menyapa orang tua tersebut,”mau di tanami apa pak?” tanyaku padanya. orang tua itu terlihat sedikit kaget seteleh mendengarsuaraku Iapun menegakkan badannya dan menoleh padaku. “mau di tanami singkong dek!” jawabnya.

Kemudian aku bercakap-cakap dengannya. rupanya mereka dari desa sebelah dan tanah yang digarapnya adalah tanah yang disewanya dari pak Tukino orang yang punya banyak tanah di desaku.

Bapak itu namanya pak Sakri sedangkan anaknya bernama Izal. “orang seperti kami ini kalau tidak menyewa lahan ya tidak bisa bertani dek… karena tidak punya lahan sendiri” ujarnya sedikit sedih. aku sendiri hanya mengangguk-angguk saja. pak Sakri masih terus memberi tahuku tentang kesusahan keluarganya. “kami ini wong cilik, wong kere dek.. saya juga orang bodoh saya ini gak pernah sekolah…” tuturnya sambil tersenyum.

“biasanya kalau panen singkong di jual apa di makan sendiri pak?” tanyaku seolah wartawan yang sedang meminta informasi yang sangat penting dari narasumbernya. “yah sebagian di jual sebagian lagi di makan sendiri di buat nasi tiwol” jawabnya sambil tertawa yang terlihat beberapa giginya terlihat sudah lepas.

“yang dijual buat membayar sewa sama buat membeli kebutuhan lain, kalau nasinyakan sudah tidak usah beli karena bisa makan nasi tiwol” tambahnya.(nasi tiwol adalah nasi yang dibuat dari singkong)

Terdengan suara yang berasal ari ananknya “pak ayo pulang sudah sore!”. memang saat itu suasana terlihat sedikit gelap karena sang surya sudah menghilang di ufuk timur dan yang ada hanya sisa-sisa sinarnya. akupun berpamitan dengan mereka dan aku kembali pulang kerumah.

Sesampai dirumah aku langsung mandi karena badanku terasa sudah lepek. perutku terasa lapar, sedangkan ibuku masih belum selesai menggoreng ikan yang dibelinya di pasar yang tak jauh dari rumah.

Aku duduk di kursi makan sambil memandangi ibuku yang sedang menggoreng ikan. ” buk nasi tiwol itu enak gak si?” tanyaku pada ibu karena terus terang aku masih penasaran dengan yang namanya nasi tiwol. “nasi tiwol itunasi yang di buat dari singkong, dulu waktu ibu masih kecil ibu dan keluarga sering makan nasi tiwol ya.. karena memang pada saat itu keadan masih susah..”jawab ibu yang sedikit mencoba menerangkan padaku.

“kamu tau dari mana nasi tiwol?” tanya ibu kembali. “tadi sore aku melihat seorang bapak yang sedang mencangkul dan aku bertanya mau ditanam apa? dan buat apa?. dan bapak itu menjawab mau di tanami singkong, dan untuk dimakan di jadikan nasi tiwol” jawabku pada ibu menerangkan kemali percakapanku sore tadi dengan pak Sakri.

Setelah makan aku masih saja teringat dengan penjelasan ibuku bahwa dulu keluarga nenek juga sering makan nasi tiwol saat masih susah. lalu yang menjadi pertanyaan saya adalah apa kehidupan pak sakri juga sangat susah sehingga keluarga mereka harus makan nasi tiwol.sekarangkan negara sudah merdeka masak masih ada masyarakat yang susah pikirku.

Keesokan harinya aku diantarkan ibu berangkat sekolah, saat itu aku masih kelas dua SMP. aku melihat pak Sakri dan anknya Izal berjalan sambil menenteng cangkul dan bekal menuju ladang kemarin. aku bertanya dalam hati “lho Izal kok tidak sekolah?” tapi kendaran motor yang dikendarai ibu terus melaju membuatku tak banyak berfikir tentang Izal.

Sepulang dari sekolah aku langsung berjalan ke belakang rumah. niatku untuk bertanya kepada pak Sakri dan Izal kok tidak sekolah. terlihat pak Sakri dan Izal sedang beristirahat di bawah pohon mereka sedang makan siang rupanya akupun menghampiri mereka. “pak Sakri” sapaku padanya. “lho dek mari kesini ikut makan” ajak pak Sakri sambil memberikn tempat buatku disampingnya.

Akupun duduk disampingnya mereka terlihat sangat lahap memakan bekalnya “ini yang namanya nasi tiwol!” ungkap pak Sakri. akupun ikut mencicipi nasi tiwol sedikit karena sebelumnya aku sudah makan di rumah. rasanyapun cukup enak dan lebih kenyal dari nasi.

Sambil mereka makan aku mulai bertanya pada Izal. “kamu kok tidak sekolah zal?”pak Skri menjawab menyerobot ” gak ada biaya dek makanya Izal tidak sekolah, anak singkong seperti Izal mana mungkin bisa sekolah dulu dia sempat sekolah tapi karena tidak punya uang buat bayar ya… terpaksa berhenti” jawab pak sakri sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya. “sebenarnya si kepingin tapi gak ada biaya..” tambah Izal. akupun hanya diam dan tidak bertaya-tanya lagi.

Ungkapan anak singkong yang digunakan pak Sakri bermakana anak petani singkong. setelah kejadian itu pak Sakri dan Izal terlihat sangat jarang datang ke ladang itu. toh kalaupun datang mereka hanya sebentar saja mungkin hanya menegoki tanaman singkongnya lalu pulang. padahal aku masih ingin bertanya-tanya dan ngobrol sama mereka.

Iklan

Written by zoegha

Desember 28, 2008 pada 1:41 am

Ditulis dalam cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: