Yoga Prasetya

Be Your Self

Aku Takut Bilang Cinta

with 4 comments

Pertama kali aku melihatnya, seingatku pada bulan desember. Aku bertemu dengannya di kantor Senat Mahasiswa Universitas Satya Wacana. menurutku dia itu sosok wanita yang cantik. Rambutnya pendek sebahu dan bibirnya seksi. Postur tubuhnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu tinggi, sayang sekali saat itu aku gak sempat berkenalan dengannya .

Setelah kejadian itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi, hal itu dikarenakan kampus sedang dilanda libur Natal. Hari-hariku selalu dilanda kebingungan. karena aku selalu terbayang-bayang oleh wajahnya. Setiap hari aku merasa gelisah, kepengennya sich.. buru-buru masuk kuliah, terus ketemu dengan dia.

Sepertinya dia sosok wanita yang sesuai dengan kriteriaku. Hhmmmm….:-? pede banget aku ini, yah…:D. mungkin karena aku gak pernah ngaca jadinya pede hehehhe….:D, ah… tapi aku yakin aku gak bakal bisa mendapatkan cintanya. Sepertinya dia gak pantas punya pacar sejelek aku hehehheh…

Akhirnya liburan usai juga, jadi seneng kampus bisa rame lagi. 😀 Selama liburan aku merasa kesepian gak punya teman. Hari-hariku aku habiskan seorang diri di kantor Scientiarum. Sebelumnya aku memang pulang ke Jepara ke tempat eyangku, tapi aku bosan, disana suasana panas.

Meskipun liburan sudah selesai tapi kampus belum begitu rame. Sebagian besar mahasiswa yang datang ke kampus hanya untuk menyelesaikan urusan administrasi kuliahnya. Dengan tidak di sengaja aku bertemu dengannya lagi di gedung administrasi pusat, aku sempat kaget karena saat itu dia jalan bertiga dan salah satu dari mereka adalah temenku namanya Sendy. Sendy itu cewek hitam manis keturunan Jawa-Ambon, aku cukup dekat dengan dia, karena dia juga temen kerjaku di majalah Scientiarum.

Wah… kebetulan banget. saat itu GAP (gedung administrasi pusat) terasa penuh dengan manusia. Yah, maklum menjelang semester baru. mahasiswa pada sibuk ngurusi administrasi. Aku sendiripun saat itu sedang super sibuk, karena pada waktu itu aku sedang ngurus transfer kuliah ke FISIPOL dan sebelumnya aku kuliah di FSM. 😦

Dia terlihat sangat cantik saat itu, dia juga terlihat sedikit sibuk mengurus kuliahnya. Aku menghampiri mereka, meskipun malu aku terus paksakan diri. Aku menepuk pundak Sendy.

”hay Sen..”sapaku. 😉

”eh si buaya… ngapain?” jawab Sendy mengejek.

Kebiasaan Sendy saat bertemu denganku adalah mengejekku, aku sendiripun gak tau kenapa dia menjuluki aku buaya. Tapi gak papa mungkin dia akan bisa membantuku untuk mendapatkan cewek itu.

”eh Send… kenalin dung.. sama temenmu yang itu!” pintaku pada Sandi sambil menunjuk cewek itu dengan mulutku.

”ah…. males… kenalan aja sendir! Masak kenalan aja gak berenai!” jawab Sendy keras sampai-sampai cewek itu mendengarnya dan tersenyum. 😉

Wah parah banget nich Sandy dimintai tolong begitu aja gak mau. Terpaksa untuk menghindar dari malu, aku beranikan langsung untuk berkenalan. Sebenarnya aku grogi sekali, tapi tak apa-apa semua itu butuh perjuangan. 😛

”hay.. nama kamu siapa?” tanyaku padanya sambil mengulurkan tangan.

”Bunga..” jawabnya senyum sambil menyambut uluran tanganku.

Setelah berkenalan dia langsung kembali beranjak mengurusi masalah kuliahnya. Aku masih saja berdiri sama Sendy dan satu temannya lagi cewek berpostur kurus dan berkaca mata yang gak aku kenal . Aku terus mendesak sendy untuk menjadi mak comblang, ”ayolah.. Sen..!” pintaku padanya. Tapi si Sendy cewek yang gak mudah untuk diajak kompromi mesti ngrayu-ngrayu kayak orang mau pinjem duit.

Aku merasa kesal sama Sendy, karena setiap aku merayunya agar dia mau jadi mak comblang, aku selalu di cuekin. ”huh… dasar jelek.. 😛 ” gumamku dalam hati mengejek Sandy. 😀

Karena si Sendy susah di rayu, aku langsung melanjutkan ngurusi kuliah maneh. Aku hanya bisa bergumam sepanjang ke sibukanku, ”asem si Sendy kon dadi mak comblang angel tenan”, ” wah… memang cantik si Bunga itu”, ”gimana caranya yah… bisa pacaran sama dia?”. semua itu adalah gumamku.

pucuk dicinta ulampun tiba, 😀 ungkapan yang pas sekali buatku saat itu. tidak di sengaja alias ora nyono-nyono, aku ketemu maneh cak. Aku bertemu lagi degannya di tempat dimana aku bertemu dengannya yang pertama. Disitu aku melihat dia sedang diskusi bersama dua orang anggota Senat. Ternyata mereka sedang sibuk diskusi membahas tentang pemilihan rektor UKSW mendatang. Wah… diskusi nich… itu adalah kesukaanku tanpa basa-basi aku langsung ikut gabung dan ikut diskusi. Aku nerocos aja ikut diskusi biar kelihatannya pinter padahal asline rak mudeng hahahhahaha…. 😀

Saat diskusi dia ikut ambil suara, wah… ternyata tak Cuma cantik tapi juga pinter cuy.. pinter nerocos kayak aku hahahhahhah….. 😀 selesai diskusi aku langsung ngandang di kantor Scientiarum biasa.. ngeneeet. aku melihatnya berjalan keluar, wuih…edian ayune…ucapku sambil garuk-garuk kepala.

Wuuuuaaaahhh…. mulutku menguap :)) , ngopi ke kafe ah…. aku langsung keluar dari kantor Scientiarum menuju kafetaria. Baru menginjakkan kaki di pintu masuk kafe mataku sudah kembali melihat Bunga. ”Hmmm… 😕 memang nasib kalau lagi mujur” gumamku dalam hati.

aku tidak langsung menyamperinya, aku masih meneruskan niatku untuk minum kopi. Aku membeli kopi dan sebatang rokok jarum super. Usai menyalakan api rokok aku langsung menyamperinya, belum aku duduk Sendy langsung melontarkan pertanyaan.

”yog ada bawa majalah nggak? ni si Bunga mau beli”. 😀

“ada” jawabku sambil duduk di samping Bunga.

“aku beli dung…” pinta bunga memandangku senyum.

“ok” jawabku sambil mengedipkan sebelah mata pada bunga.

“berapa?” tanya bunga yang masih saja memandangiku.

“murah kok.. cuma limaribu aja..” jawabku senyum.

Bunga langsung mengeluarkan uang limaribu dari dompetnya dan diberikannya padaku. seketika itu juga dia langsung membuka majalah dan membacanya. sesekali aku dan bunga melakukan tanya jawab tentang artikel yang di bacanya. Bunga membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Satria tentang Jas Merah Satya Wacana.

Hmmm… memang perfect ni cewek, udah cantik (buatku), asyik, pinter, suka baca lagi.. mualai dari situ aku mulai merasa benar-benar jatuh cinta padanya. Aku mulai berhayal tinggi, sampai-sampai kayalku serasa sampai kelangit ke tujuh. 😀

Tak lama kami berempat saling bercakap-cakap, mereka bertiga pulang ke kostnya Bunga buat ngerjain tugas laporan kerja praktik milik si Sandy. Akupun ikut beranjak dari kafe dan mbalek lagi ke Scientiarum.

Aku menginap di Scientiarum, karena aku malas sekali pulang ke kost. Di Scientiarum aku di temani oleh Daniel wartawan Scientiarum dan Bejo anggoa Senat.

Pagi aku sudah nongkrong lagi di kafe lagi, biasa Cuma buat ngopi. Sebagai mahasiswa kere, pagi itu aku ngutang segelas kopi dan sebatang rokok jarum di kafe langganan (langganan utang kalo pas kere) 😀 . Dompetku terlihat tipis karena isinya Cuma sepuluh ribu tok. sambil nunggu trasferan uang dari ortu yang katanya mau di transfer hari itu juga aku nongkrong aja di kafe meskipun kadang merasa kepengen kalo melihat orang lagi makan.

Suara Sandy memanggilku, ”Yog..” aku langsung menengok kebelakang. ternya Sandy dan Bunga juga ada di kafe, awalnya aku tak melihatnya karena aku berlawanan arah dengannya. Aku langsung menyamperinya dan duduk di samping Bunga yang sedang menikmati segelas jus stowbary.

Hujan turun deras sekali, bak air tumpah dari langit. 😕 Aku masih saja duduk disamping Bunga sambil memandangi hujan. Bungapun ikut memandangi hujan. Sendy sendiri sedang asyik menikmai Indomie goreng telur di depanku.

”wah… jadi keinget waktu aku mengatakan cinta pada cewekku dulu” kataku pada Bunga. 😀

”masak sich… pas ujan-ujan begini?” 😉

”trus.. di terima ?” tambahnya. 😕

”yah.. waktu itu ujan deres banget, aku mengatakan cintaku padanya ditengah lebatnya hujan dan dia menerimaku” jawabku mengingat. 😕

”wah hebat banget…. eh tapi kalu di tolak kamu gimana?” 😉

”yah.. aku tinggal aja biar kehujanan heeheh” jawabku sambil tertawa. 😀

Aku dan Bunga terlihat asyik ngobrol, tiba-tiba tangannya menunjuk keluar ”lihat Yog!” mataku langsung melihat keluar ternyata Bunga menunjuk dua orang cewek-cowok yang yang mengenakan satu payung di tengah lebatnya hujan.

”romantis ya” ungkap Bunga senyum.

”pasti… seperti itu ya kamu dulu?” tanya Bunga. 😀

”ya” jawabku singkat.

Saat itu aku merasa cintaku pada Bunga mengelora, aku ingin sekali mengatakan kalau aku cinta sama dia. Tapi aku tak punya keberanian untuk itu, aku takut sekali kalu dia menolakku. Aku hanya memendam rasa cintaku yang sebenernya pengen meledak. Aku hanya berkata dalam hati ”mungkin lain kali saja aku ungkapkan cintaku padanya”.

Setelah kejadian itu, aku dan Bungan terlihat akrab. 😉 Oleh sebab itu aku takut merusak hubungan itu karena sebuah ungkapan cinta. Dan aku pikir, mencintai kan tidak harus memiliki. 😉

Iklan

Written by zoegha

Januari 10, 2009 pada 7:44 am

Ditulis dalam cerpen

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. jatuh cinta berjuta indahnya…biar siang biar malam..terbayang wajahnya…seeerrrr

    James

    Januari 15, 2009 at 12:58 am

  2. cinta itu begitu sempurna.. dan sanking sempurnanya cinta menjadi susah di gapai seperti bintang di langit yang hanya bisa menjadi panutan saja.

    terkadang cinta itu indah namun terkadang cinta itu menyakitkan karena cinta tak pernah konsisten seperti suhu ruangan yang di ukur dengan termometer. terkadang cinta bisa dingin dan beku terkadang cinta bisa panas membara. tapi meskipun begitu cinta adalah segalanya.

    zoegha

    Januari 15, 2009 at 2:28 pm

  3. bunga??? sadis betul kaya’ korban pemerkosaan aja. hwakakaka… =p

    rere

    Januari 25, 2009 at 3:45 pm

  4. Dan aku pikir, mencintai kan tidak harus memiliki.

    tapi menikmati? meniduri? hm…biasane piye Yog?

    pwijayanto

    April 9, 2009 at 4:08 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: