Yoga Prasetya

Be Your Self

Perlunya Verifikasi

with 4 comments

Pada 21 Januari 2009, saya memperoleh pesan singkat dari salah satu staf Biro Promosi Universitas Kristen Satya Wacana, namanya Saam Fredy Marpaung. Dia mengirim pesan singkat yang mengatakan, ”Dosen elektro bawa pisau mengamuk di gedung C”. Pikir saya, dari mana dia mendapatkan informasi tersebut, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk bergegas menuju gedung C dan kroscek. Gedung C inilah kantor pusat Fakultas Teknik Elektro dan Komputer.

Sesampainya di gedung C, saya bertemu dengan salah satu mahasiswa Fakultas Teknik Elektro. Namanya saya lupa, tapi sebelumnya kami pernah bertemu di Jakarta, ketika ada perhelatan akbar kontes robot di Universitas Indonesia tahun 2008 lalu. Saat itu pula saya langsung mencari informasi darinya, ”Mas memang benar tadi ada dosen mengamuk bawa pisau?” tanyaku.

” Wah mendingan tanya saja mas ke kantor elektro, nanti takutnya saya dikatakan menyebar gosip,” jawabnya.

Setelah sedikit bercakap-cakap dengannya, saya merasa belum ada kepastian benar apa tidaknya kejadian tersebut. Meski sebenarnya dalam benak saya meyakini kalau isi pesan singkat itu benar adanya. Selang beberapa menit saya pun melanjutkan pencarian informasi menuju kantor FTEK.

Setibanya di kantor elektro, saya bertemu seorang ibu yang berambut pendek dan badannya sedikit kurus. Seorang Ibu itu tampak sibuk menata berkas-berkas yang ada di mejanya. ”Mungkin dia pegawai administrasinya,” guman saya.

Lalu saya mulai mencari tahu sambil memperkenalkan diri, ”Bu… saya dari Scientiarum, saya mau minta informasi tentang dosen yang membawa pisau dan mengamuk?” Scientiarum adalah Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana.

”Ow.. mendingan langsung ketemu saja Mas sama pak Dalu, kantornya ada di situ,” tuturnya, sambil tangan kanannya menunjuk kearah ruangan Dalu. Pak Dalu yang dia maksud adalah Kepala Program Studi Tehnik Elektro.

Saya pun langsung melangkahkan kaki menuju ruangan pak Dalu. Namun sesampainya di depan ruangannya, saya melihat pak Dalu sedang bincang-bincang dengan salah seorang mahasiswa Tehnik Elektro. Dan saya terpaksa menunggunya di luar sambil melihat-lihat mading.

Ketika saya melihat-lihat mading, tiba-tiba seorang lelaki lewat dibelakang saya, rupanya seorang lelaki tersebut hendak mengunci pintu tembus menuju kantor. Usai mengunci pintu saya mendengar lelaki itu berkata kepada seorang Ibu tadi dengan mengatakan, ”Buk… pintunya saya kunci saja biar nanti kalau ”dia” datang lagi tidak lewat sini, tapi lewat pintu utama” ujar lelaki itu sambil mengayunkan kakinya melalui saya.

”Siapa “dia” yang mereka maksud… apakah pak OKD?” lirih saya.

Tak lama kemudian saya melihat mahasiswa yang tadi berbicang-bincang dengan pak Dalu keluar dari ruangan. Mengetahui hal itu, saya bergegas menuju ruangannya pak Dalu.

”Permisi pak,” sapa saya.

”Ya… silahkan masuk,” jawab Dalu.

”Begini pak saya dari Scientiarum, maksud kedatangan saya ke sini ingin mendapatkan informasi tentang dosen elektro yang membawa pisau dan katanya mengamuk, apakah itu benar?” Pinta saya kepada pak Dalu.

” Ow… itu, ya memang pak OKD tadi ke kantor saya dan memang menodongkan pisau ke arah saya,” tuturnya sambil tertawa kecil.
Dalam perbincangan itu, Dalu berusaha menjelaskan kejadian yang baru saja dialaminya. Dia bercerita banyak kejadian siang itu, dan sedikit mengisahkam saudara OKD.

”Pak OKD, dulunya itu staf pegajar di elektro, dia mengajar mata kuliah mesin listrik dan elektronika daya,” terangnya.

”Beberapa tahun yang lalu, pak OKD berkali-kali mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai dosen karena sakit. Namun, permohonan pengunduran diri pak OKD ditolak oleh pihak fakultas. Dengan alasan dari segi kemampuan pak OKD merupakan dosen yang pintar. Selain itu, pak OKD sudah bekerja sejak lama, yaitu sejak 1984,” tambahnya.

”Saat kejadian tadi, memang saya sempat mengobrol dengan OKD. Namun sebelum saya berbincang dengannya, terlebih dahulu saya menyuruhnya membuang pisau yang ditodongkan ke arah saya.

”dalam perbincangan itu, OKD menanyakan siapa yang telah menghapus file di komputernya yang ada dirumah. Tapi, entah itu benar ada yang menghapus filenya atau tidak saya tidak tau” tutur Dalu.

”Tapi, mungkin ada alasan yang lain. yaitu, tentang dana pensiun yang sangat kecil sekali dan dia merasa kecewa dengan hal itu. Karena dalam obrolan tadi, pak OKD juga membincangkan masalah dana pensiunya. Terang Dalu.

”OKD berkata kepada saya, tentang dana pensiun yang sangat kecil yaitu Cuma duaratus ribu mana cukup? tapi dalam hal itu saya tidak bisa memberikan solusi apa-apa tentang dana pensiun. karena, itu yang berwenangkan yayasan”. Jelas Dalu.

”Setau saya, OKD mengalami gangguan jiwa. maka Ketika menghadapi dia saat menodongkan pisau, ya..saya tidak takut, karena menghadapi orang seperti itukan harus tenang”. Tandasya.

Setelah selesai melakukan wawancara dengan pak Dalu, saya pamit kepada pak Dalu. sebelumnya, saya bertanya kepada pak Dalu, dimana letak kantor pak Handoko. Pak Handoko adalah Dekan Fakultas Tehnik Elektro.

”Kantornya ada di sebelah, samping ruang rapat”. Tutur Dalu.

Tujuan saya ingin bertemu dengan pak Handoko adalah untuk melakukan kroscek apakah kejadian tersebut benar. dan saya ingin mendapatkan informasi tentang apa tanggapan pak Handoko tentang kejadian tersebut.

Setelah keluar dari kantor pak Dalu, saya langsung menuju dimana kantor pak Handoko berada.

“Permisi pak” sapa saya pada pak Handoko yang terlihat sedang duduk di depan komputer.

“Oh… ya.. silahkan masuk!” jawab pak Handoko.

Setelah dipersilahkan masuk, saya langsung duduk berhadapan dengan pak Handoko.

”Bagaimana ada yang saya bisa bantu?” tanya pak Handoko.

“Begini pak, saya dari Scientiarum. maksud kedatangan saya kesini adalah ingin meminta informasi tentang dosen yang membawa pisau, maksud saya pak OKD ” tutur saya.

“Oh.. itu, ya saya memang mendengar tentang hal itu. namun, saya tidak melihat kejadian itu dengan pasti. karena saat kejadian tadi, saya sedang mengajar dikelas” jelasnya.

” Pak OKD memang telah mengalami gangguan kejiwaan sejak tahun 1993, dan dia juga pernah masuk rumah sakit jiwa berkali-kali” ungkapnya.

”Pak OKD juga pernah mengatakan, bahwa ada yang telah menghapus file komputernya. dan juga halusinasi yang lainnya. Namun, tidak pernah saya layani karena itu tidak logis. dan kalau saya layani nanti yang sebenarnya tidak logis itu siapa? Karena saya sudah tau bahwa pak OKD sudah mengalami gangguan jiwa.” terangnya.

Dalam percakapan saya dengan pak Dalu, saya sempat menanyakan masalah dana pensiunnya pak OKD. pak Handokopun mencoba menjelaskan dan bahkan sempat menelphone yayasan untuk menanyakan usulan yang diajukan oleh fakultas tentang dana pensiun pak OKD. Namun, saat pak Handoko menelphon, staff pekerja yayasan sedang istirahat siang.

”Kalau masalah dana pensiun, memang yang didapat oleh pak OKD itu sedikit. dan kami sudah pernah mengajukan ke pihak pimpinan Universitas, supaya pak OKD bisa diperlakukan seperti pensiun waktu penuh. dan secara prinsip, pimpinan Universitas sudah menyetujui dan tinggal di lanjutkan ke yayasan”. Jelasnya kembali.

Setelah melakukan wawancara dengan pak Dalu dan pak Handoko, saya langsung mebulisnya tanpa melalui konfirmasi terlebih dahulu kepada pak OKD. Memang dalam hal ini, saya tidak sempat berfikir apakah tulisan saya akan bermasalah atau tidak. Karena dalam tulisan tersebut tidak ada konfirmasi terlebih dakulu dengan pak OKD ataupun keluarganya.

Mungkin, ketidak mampuan saya berfikir tentang apakah tulisan itu akan bermasalah atau tidak, disebabkan oleh karena kurangnya saya dalam memahami kode-kode etik jurnalisme.

Selesai menuliskan berita tersebut, saya langsung menyerahkan tulisan itu kepada editornya Scientiarum yaitu Kiko. Keessokan harinya, tulisan yang sudah diedit oleh Kiko langsung diberikan kepadaku. Awalnya saya pengen menambahi berita tersebut dengan beberapa opini. namun, karena sudah terlanjur di edit jadi langsung saja saya menyerahkan tulisan itu kepada redaktur web Scientiarum yaitu Gunawan untuk memposting tulisan tersebut.

Tulisan tersebut saya beri judul ”Mantan dosen elektro diduga alami depresi” terlihat dari judul memang seolah-olah sangat menyudutkan pihak OKD. Apalagi di tambah dengan tidak adanya konfirmasi kepada OKD.

Meskipun, kebenaran bahwa OKD telah mengalami depresi di benarkan oleh beberapa pembaca. Bahkan salah satu alumni fakultas elektro yang juga alumni Scientiarum juga membenarkan bahwa OKD mengalami depresi.

Selang beberapa hari setelah tulisan tersebut di posting, banyak sekali komentar yang masuk. Dalam komentar tersebut, banyak sekali yang mengatakan bahwa berita tersebut kurang berimbang dan dinilai terlalu menyudutkan dan menjelekkan nama baik pak OKD.

Pada tanggal 3 Februari 2009, Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Elektro memberikan surat yang di tujukan ke Scientiarum. Surat tersebut berisikan permintaan pencabutan berita yang berjudul ”Mantan Dosen Elektro Diduga Alami Depresi”.

Dalam menanggapi surat tersebut, beberapa Staff Scientiarum melakukan perundingan untuk menurunkan berita tersebut. karena memang tulisan tersebut dinilai kurang berimbang dengan tidak adanya klarifikasi dengan pak OKD.

Akhirnya tulisan yang sudah di posting di web Scientiarum terpaksa di turunkan, meskipun dalam hal ini ada beberapa orang yang melarang tulisan itu diturunkan. namun, pihak pembaca yang meminta berita itu diturunkan lebih banyak ketimbang yang meminta berita itu tetap dipasang.

Semua itu memang kesalahan saya, karena dalam penulisan tersebut, saya tidak mengkonfirmasi kepada pak OKD terlebih dahulu. seharusnya sebagai penulis saya harus melakukan verifikasi kepada pak OKD sebelum tulisan itu di posting.

Saya jadi teringat oleh seorang wartawan sebuah media di solo, wartawan tersebut menuliskan profil Satria mantan pemimpin redaksi Scientiarum. dalam penulisan profil Tersebut, terdapat banyak kekeliruan. aku yakin kenapa dalam penulisan profil tersebut banyak kekeliruan, pasti karena wartawan tersebut tidak melakukan verifikasi kepada Satria. padahal seorang wartawan dalam membuat sebuah tulisan hendaknya harus melakukan disiplin verifikasi.

Tak lama setelah berita profil satria di muat di surat kabar tersebut, satria menulis di blognya dengan judul “cara Solopost menuliskan artikel profil”. dan setelah kejadian itu sang wartawan yang menuliskan artikel profil Satria mendapatkan skorsing karena kesalahannya.

Tanpa saya sadari, kejadian itupun telah saya lakukan. meskipun, kesalahan yang saya lakukan tak separah yang dilakukan oleh wartawan tersebut tapi biar bagaimanapun saya sama dengan wartawan solopost tersebut, sama-sama salah.

Saya sangat merasa malu dan tidak enak dalam hal ini. saya malu bukan karena apa, tapi karena sudah membuat citra Scientiarum yang selama ini telah di bangun oleh para alumni Scientiarum terutama mas Bambang menjadi rusak seketika.

Sepanjang sejarah berdirinya Scientiarum, baru kali ini menurunkan berita yang telah di posting. Dan hal itu dikarenakan oleh ulahku yang sembrono. Dan karena kesembronoanku aku merasa aku telah merusak citra Scientiarum yang selama ini telah dipercaya oleh banyak pembaca.

Saya memang sangat sembrono sekali dalam hal ini. Apalagi status saya di Scientiarum adalah seorang pemimpin redaksi.

Itulah mengapa pentingnya disiplin verifikasi perlu di lakukan dalam sebuah penulisan. Karena dalam melakukan sebuah penulisan hendaknya selalu mencakup kode-kode etik jirnalisme. Dan tanpa memahami kode-kode etik jurnalisme maka tulisan tersebut di anggap malakukan penyimpangan dalam kaidah jurnalisme.

Meskipun kejadian yang kita tuliskan adalah benar-benar ada, tapi sebagai penulis kita tetap perlu melakukan klarifikasi agar tulisan yang kita buat menjadi berimbang.

Iklan

Written by zoegha

Februari 4, 2009 pada 6:25 am

Ditulis dalam cerpen

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ga bijak deh Ga..
    kalo kowe menghapus artikel itu.. tetap saja ditulis.
    kalo dah ada revisinya, ditempelin aja di atasnya.. jadi artikel asli itu nanti buat tempelan artikel revisinya…

    kan untuk pembelajaran…

    kae nang FB ne meQ.. koe diceluk wedi mbek LK FTEK..
    aku ya setuju mbek meQ…
    lha artikel itu dihapus tanpa kejelasan….

    andi-dobleh

    Februari 4, 2009 at 2:06 pm

  2. Lho, jadi artikel itu udah diedit Kiko? Kok masih lolos juga?

    Kowe masih perlu ceramah jurnalisme? Aku harap tidak.

    STR

    Februari 5, 2009 at 6:12 am

  3. Kiko ini makin hari editannya makin gak bagus. Mungkin harus di refresh.

    Yoga, aku juga gak tau kenapa artikel itu km cabut. Edit saja cukup, dan tambah dengan wawancara beberapa nara sumber lagi. Benar kata dobleh. itu untuk pembelajaran.

    Buat aku, tekanan yang km dapat dari artikel ini, belum seberapa besar dengan yg di dapat kiko pada artikel FTI nya. Kalau begini aja udah lari, musuhnya LK lagi gimana dapat tekanan yang lebih besar.(aku ini juga bingung.jijik sekali aku sama anak2 LK)

    meci

    Februari 5, 2009 at 6:25 pm

  4. rencananya begitu mec.. berita akan saya revisi dan dilengkapi dengan semua sumber terkait.

    kiko sebenarnya bagus cuma mungkin lagi banyak kerjaan aja jadi konsennya kurang.

    kenapa kamu jijik sama LK mec ???

    zoegha

    Februari 6, 2009 at 3:39 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: