Yoga Prasetya

Be Your Self

Menulis Modal Nekat

with one comment

Tulisan ini merupakan tulisan yang jauh dari sempurna karena yang menulis bukanlah manusia yang sempurna dan hanya bermodal nekat. hihihii….. Tulisan ini dibuat hanya dalam rangka iseng mengisi waktu kosong yang dari pada bengong. So… boleh komentar tapi jangan asal, kalau asal boleh usul tapi usul gak boleh asal hihihiihhii.. gak nyambung ya..

Sepanjang sejarah aku menulis, menurutku tak ada tulisanku yang dapat aku nilai baik. Tapi, aku gak tau apa penilaian orang-orang yang membaca tulisanku terhadap tulisan-tulisan yang pernah aku tulis, entah dia bilang buruk atau bagus aku juga tidak tahu. Karena tulisan-tulisan yang pernah aku tulis yang menurutku kurang sempurna, merupakan sebuah proses untuku menjadi seorang penulis.

Sebuah karya itu yang menentukan apakah karya itu baik atau tidak adalah orang lain. Oleh sebab itu aku selalu memperhatikan komentar-komentar yang terlontar dari orang-orang yang membaca tulisanku, karena bagiku komentar-komentar itu merupakan masukan untuku untuk dapat menghasilkan sebuah tulisan yang gurih untuk di baca.

Selama ini aku belajar menulis dengan cara otodidak, tidak ada manusia yang membimbingku dalam menulis. Hanya dengan modal nekat aku tidak perduli aku selalu saja menulis, entah itu hasilnya buruk atau tidak, aku tidak perduli dan yang aku tahu hanyalah menulis.

Keinginanku menulis sebenarnya bukan karena ingin mengembangkan bakatku menulis, karena aku tidak punya bakat menulis hihihii… Keinginanku menulis sebenarnya hanyalah sekedar mengisi waktu luang. Akan tetapi karena merasakan menulis itu enak makanya aku terus saja menulis.

Pernah suatu ketika aku chating lewat facebook dengan Iwan Piliang seorang penulis dan sekaligus pengelola website http://blogpresstalk.com, http://blog-presstalk.info, http://www.partaionline.org, dalam chating itu aku mengatakan pada Iwan bahwa aku ingin belajar menulis kepadanya karena dia lebih jago menulis ketimbang aku. Iwan hanya menjawab “Dalam menulis itu tidak ada yang jago atau tidak jago, tidak ada senior ataupun yunior, kalau mau belajar menulis syaratnya ada lima (bukan rukun Islam lho..) yaitu pertama: menulis, kedua: menulis, ketiga: menulis, keempat: menulis dan yang kelima: menulis”. dan mungkin jawaban Iwan bisa menguatkan alasanku mengapa aku hanya modal nekat dalam belajar menulis dan yang aku tau hanyalah menulis.

Sekitar tahun 2008 lalu aku mulai belajar menulis, aku memulainya ketika aku bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum. sebuah pers mahasiswa yang berada di Universitas Kristen Satya Wacana. Aku memulainya dengan menjadi seorang wartawan di Scientiarum. Pertama kali aku menulis berita, aku menulis tentang hasil liputanku aksi demo mahasiwa menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak pada tahun 2008. Masih dengan modal nekatku, aku paksakan diri untuk melakukan liputan meskipun aku tidak tahu harus bagaimana, aku tetap saja nekat.

Media inilah yang sebenarnya membimbingku, media yang mengenalkanku tentang menulis. Meskipun sebenarnya jengkel ketika disuruh liputan saat sibuk-sibuknya kuliah yang belum lagi ditambah dikomentarinya tulisanku oleh pemimpin redaksi Scientiarum yang juga sekaligus menjabat sebagai seorang editor, aku hanya mencoba sabar dan tetap enjoy.

Seiring dengan berjalannya waktu, tak terasa sudah setahun. Aku belum merasakan sedikitpun perubahan yang ada padaku dalam menulis. Kecuali menghasilkan tulisan-tulisan murahan yang selalu di komentari oleh banyak orang. Akan tetapi itulah proses, dan untuk bisa mendapatkan sesuatu itu pasti ada prosesnya, bener gak?.

Sekarang aku telah menjabat sebagai pemimpin redaksi di Scientiarum, perjalanan yang sedikit panjang telah aku lalui. Mulai menjadi wartawan culun yang tak tahu apa-apa sampai menjadi pemimpin redaksi yang juga masih culun telah aku rasakan. hahahahha… aneh ya.. pemimpin redaksi kok culun, itulah mari aku jelaskan…

Pada tulisan diatas aku sudah menjelaskan, bahwa tak banyak yang aku dapat selama setahun bergabung dengan Scientiarum. Makanya aku masih saja culun alias pekok karena cuma modal nekat hehehehehe….

Pada Desember 2008, ketika Scientiarum menerbikan majalah perdananya, pemimpin redaksiku mengundurkan diri dengan alasan sudah capek memimpin Scientiarum selain itu sepertinya perlu regenerasi pemimpin di Scientiarum. Scientiarum yang saat itu terdiri dari delapan belas orang staff mengusulkan empat orang yang mana nantinya salah satunya akan menjadi pemimpin redaksi Scientiarum. Dari empat orang yang diusulkan salah satunya adalah aku, tapi ketika dilakukan pemilihan secara musyawarah ketiga orang yang dicalonkan mengundurkan diri dengan alasannya masing-masing dan yang tersisa hanyalah aku. Terpaksa deh.. aku terpilih menjadi pemimpin redaksi Scientiarum tanpa harus bersaing dengan tiga orang yang lain. Jadi pada intinya aku terpilih tanpa diduga hihihiii….

Aku mulai resmi menyandang status sebagai pemimpin redaksi di Scientiarum per-Januari 2009. Setelah aku menjabat sebagai pemimpin redaksi di Scientirum, media ini tak banyak mengalami perubahan justru malah mengalami kemunduran. yah tau sendiri kan yang memimpin orang yang hanya bermodal nekat hihihiiii….

Tugasku semakin bertambah berat ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi. Terpaksa aku harus mendobel-dobel jabatan mulai dari pemimpin redaksi, redaktur pelaksana dan sekaligus wartawan. Yah semua itu dikarenakan oleh beberapa faktor, yang pertama karena kebanyakan staff Scientiarum mulai sibuk mengurus skripsi dan juga pada malas bekerja. Untung saja tidak tambah satu lagi yaitu editor, bagaimana mau jadi editor nulis aja masih kacau hihihihihiiii….

Semua itu aku jalani hanya modal NEKAT… hehehhehe…. disamping modal nekat background saya adalah Enjo aja…. kayak iklan rokok ya…? yah… meskipun terkadang mengeluh sih.. tapi keluhanku adalah semangatku hihihihiii….

Ok, baiklah mungkin itu cerita saya sebagai penulis yang bermodal NEKAT. Tapi saya mau tanya menurut anda apa kira-kira menulis dengan modal NEKAT itu bagus? xixixiixii….

Iklan

Written by zoegha

Mei 23, 2009 pada 1:43 pm

Ditulis dalam cerpen, Uncategorized

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. menulis modal nekat, cukup sporadis. menulis ibarat pisau, semakin diasah semakin tajam.
    Bung karno, bung hatta, pram, kuntjoroningrat, mereka orang besar….
    mereka selalu dikenang karyanya walo sudah ditelan waktu.
    karena mereka produktif menulis, sabar mengurutkan kata-kata, merapikan diksi janggal, menyusun makna, mengukir masa..
    mari, kawan kita sama haus belajar.
    Menurutku, mari mengabdi ilmu, mengail pengalaman…
    Bravo!

    ulin nuha

    November 8, 2009 at 12:15 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: